suaradunianusantara.net – Kehadiran produksi film internasional yang dibintangi Lisa BLACKPINK di kawasan Kota Tua Jakarta menandai penguatan diplomasi budaya Indonesia melalui jalur industri kreatif. Penggunaan ruang bersejarah sebagai lokasi syuting film global memperluas persepsi internasional terhadap Jakarta, bukan hanya sebagai kota metropolitan, tetapi juga sebagai simpul budaya yang adaptif.
Proses syuting film “Extraction: Tygo,” berlangsung di Kota Tua pada rentang 31 Januari hingga 7 Februari 2026. Sejumlah ruas strategis seperti Jalan Cengkeh dan Jalan Kunir ditutup sementara demi kelancaran produksi. Perubahan ini menjadikan Kota Tua sebagai etalase visual yang disaksikan oleh pasar global melalui medium film.
Singkatnya, layar lebar menjadi medium diplomasi.
Kota Tua sebagai Instrumen Soft Power Jakarta
Pemilihan Kota Tua tidak berdiri sendiri. Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menyebut keterlibatan Jakarta dalam ajang Festival Film Cannes menjadi pintu awal kerja sama produksi internasional. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membuka stan promosi di Cannes dan kembali berpartisipasi pada Mei 2025, memperkenalkan Jakarta sebagai kota yang ramah bagi industri film global.
Dalam konteks tersebut, Kota Tua diposisikan sebagai lokasi unggulan. Arsitektur kolonial, lanskap historis, dan fleksibilitas ruang menjadikannya latar yang mudah disesuaikan dengan berbagai narasi internasional.
Yang patut dicatat, pendekatan ini menempatkan budaya kota sebagai aset diplomasi, bukan sekadar objek wisata.
Dari Promosi Kota ke Persepsi Global
Keterlibatan figur global seperti Lisa BLACKPINK memperluas jangkauan pesan budaya. Film yang diproduksi untuk platform internasional memungkinkan visual Kota Tua menjangkau audiens lintas negara tanpa kampanye promosi konvensional.
Dalam praktiknya, ini membangun persepsi Jakarta sebagai kota yang terbuka, siap kolaborasi, dan relevan dalam peta industri kreatif global.
Produksi Film dan Citra Indonesia di Mata Dunia
Selama proses syuting, Kota Tua direkayasa secara visual untuk merepresentasikan latar negara lain. Spanduk berbahasa Myanmar, properti konflik, hingga kendaraan rusak digunakan sebagai elemen cerita. Namun, struktur kawasan cagar budaya tetap dijaga tanpa perubahan permanen.
Di lapangan, aktivitas wisata sempat menurun dan arus lalu lintas dialihkan. Meski begitu, dari sudut pandang diplomasi, ruang kota bekerja sebagai medium representasi budaya yang lentur dan berdaya saing.
Efek lanjutan dari itu bersifat jangka panjang. Kota Tua tidak hanya hadir sebagai lokasi, tetapi sebagai simbol kesiapan Indonesia dalam ekosistem produksi global.
Diplomasi Budaya Melalui Industri Kreatif
Film menjadi sarana komunikasi lintas budaya yang efektif. Tanpa pernyataan politik, tanpa forum resmi, pesan tentang Indonesia disampaikan melalui visual, latar, dan cerita. Dalam sudut pandang ini, Kota Tua berfungsi sebagai bahasa bersama yang dipahami audiens internasional.
Artinya, diplomasi budaya Jakarta bergerak melalui gambar dan narasi, bukan pidato.
